Siapa Saja yang Dimaksud Anak Yatim Menurut Islam ?

Sahabat mungkin sering mendengar istilah anak yatim piatu, tetapi bagaimana sebenarnya Islam mendefinisikan yatim, dan bagaimana pandangan Islam terhadap mereka?


Definisi Anak Yatim dalam Islam

Secara bahasa, kata yatim berasal dari kata al-fardu, yang berarti sendiri atau sesuatu yang kehilangan kesamaannya. 

Dalam Islam, anak yatim adalah seorang anak yang telah kehilangan ayahnya sebelum mencapai usia baligh.


Menurut Imam As-Syairazi As-Syafi’i, anak yatim adalah mereka yang tidak memiliki ayah dan masih dalam usia belum baligh. 

Setelah baligh, seseorang tidak lagi disebut yatim, sebagaimana yang dijelaskan dalam kitab Al-Muhaddzab.


Pendapat serupa juga dikemukakan oleh Syekh Sulaiman Al-Jamal, yang menyatakan bahwa anak kecil yang kehilangan ayahnya, meskipun masih memiliki ibu atau kakek-nenek, tetap dikategorikan sebagai yatim.


Dari berbagai pendapat ulama ini, dapat disimpulkan bahwa tolak ukur seorang anak disebut yatim adalah kehilangan ayahnya sebelum baligh. Jika seorang anak kehilangan ibunya tetapi ayahnya masih ada, maka tidak disebut yatim, melainkan disebut sebagai piatu.


Dalam tradisi masyarakat Indonesia, anak yang kehilangan ayah disebut yatim, sementara yang kehilangan ibu disebut piatu. 

Jika kedua orang tuanya telah tiada sebelum baligh, maka ia disebut yatim piatu.


Hukum Memberikan Santunan kepada Anak Yatim yang Sudah Baligh

Islam tetap menganjurkan membantu anak yatim yang telah baligh, meskipun mereka tidak lagi berstatus yatim. Bantuan tersebut bisa diberikan dalam bentuk sumbangan kepada keluarga kurang mampu, termasuk mereka yang pernah menjadi yatim namun kini sudah dewasa dan masih membutuhkan bantuan. Namun, bagi anak yatim yang sudah mandiri dan hidup berkecukupan, santunan khusus untuk anak yatim tidak lagi berlaku untuknya.


Keutamaan Membantu dan Menyayangi Anak Yatim

Islam sangat menekankan pentingnya menyantuni dan menyayangi anak yatim. Berikut beberapa keutamaan bagi mereka yang memperhatikan dan membantu anak yatim:


1. Dekat dengan Rasulullah di Surga

Mereka yang merawat anak yatim akan mendapatkan kedekatan khusus dengan Rasulullah SAW di surga, sebagaimana sabda beliau:


اَنَا وَكَافِلُ الْيَتِيْمِ فِى الْجَنَّةِ هَكَذَا وَأَشَارَبِالسَّبَّابَةِ وَالْوُسْطَى وَفَرَّجَ بَيْنَهُمَا


Artinya: “Aku dan orang yang memelihara anak yatim akan berada di surga seperti ini.” Rasulullah memberikan isyarat dengan jari telunjuk dan jari tengah yang direnggangkan.” (HR. Bukhari).


Keutamaan ini menunjukkan bahwa menyantuni anak yatim adalah amal yang sangat dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya.


2. Jaminan Masuk Surga

Bagi siapa saja yang merawat dan memenuhi kebutuhan anak yatim dengan kasih sayang, Allah SWT telah menjamin tempat di surga, sebagaimana disebutkan dalam hadits:


“Orang-orang yang memelihara anak yatim di antara umat Muslimin, memberikan mereka makan dan minum, pasti Allah memasukkannya ke dalam surga, kecuali ia melakukan dosa yang tidak bisa diampuni.” (HR. Tirmidzi dari Ibnu Abbas).


Hadits ini menegaskan bahwa menyayangi dan merawat anak yatim adalah salah satu jalan menuju surga.


3. Terhindar dari Siksa pada Hari Kiamat

Pada hari kiamat, setiap perbuatan akan diperhitungkan. Namun, bagi mereka yang telah menyayangi anak yatim, Allah SWT akan memberikan perlindungan dari siksa hari akhir. Rasulullah SAW bersabda:


“Demi Yang Mengutusku dengan kebenaran, Allah tidak akan menyiksa pada hari kiamat nanti orang yang menyayangi anak yatim, berbicara lembut kepadanya, serta menunjukkan kasih sayang kepada mereka.” (HR. Thabrani dari Abu Hurairah).


Hal ini menunjukkan bahwa menyayangi anak yatim merupakan perbuatan yang akan menyelamatkan seseorang dari siksa akhirat.


4. Mendapat Pahala Amal yang Terus Mengalir

Setelah seseorang meninggal, seluruh amalnya akan terputus, kecuali tiga hal, sebagaimana yang disebutkan dalam hadits:


“Jika manusia meninggal, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shaleh yang selalu mendoakannya.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah).


Dengan menyantuni anak yatim, insya Allah mereka akan selalu mengingat dan mendoakan kita setelah kita meninggal, sehingga pahala kita tetap mengalir.


Menjadi anak yatim bukanlah pilihan mereka, tetapi takdir Allah SWT. Oleh karena itu, Islam mengajarkan kita untuk menghormati, menyayangi, dan membantu mereka agar mereka tetap memiliki harapan dan tidak kehilangan semangat hidup. Keberadaan anak yatim di tengah masyarakat adalah ladang amal bagi kita semua. Rasulullah SAW sendiri merupakan seorang yatim, dan banyak hadits yang menekankan betapa mulianya kedudukan anak yatim dalam Islam.


Mari kita muliakan dan bahagiakan mereka, karena dengan menyayangi anak yatim, kita juga akan mendapatkan keberkahan dan kemuliaan di sisi Allah SWT. Dukungan dan kepedulian kita sangat berarti bagi mereka.

Tag Kategori Berita